Rabu, 15 Maret 2017

Masalah Itu Juga Rezeki


Tidak ada seorang pun di dunia ini yang belum pernah menghadapi masalah. Jenis dan bebannya beragam. Ada yang ringan, juga ada yang berat. Ada yang satu persatu, ada yang beberapa sekaligus. Dan sudah menjadi fitrah kita sebagai manusia akan melontarkan keluhan saat masalah itu hadir. Apalagi ketika sudah berusah mencari tahu sebab-sebabnya, namun tak kunjung ditemui.

Mengapa bisa seperti ini? Apakah yang salah selama ini? Bagaimana cara menyelesaikannya? Ya, akan tiba saat dimana pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul dan mengambil tempat di pikiran dan perasaan. Lalu hari demi hari berlalu tanpa ada sebuah jawaban. Kita lantas menghakimi bahwa Tuhan itu tidaklah adil. Kita lantas berprasangka, benci kah Tuhan denganku?

Mungkin lupa untuk duduk sejenak dan berpikir. Menelaah kembali proses perjalanan yang sudah dilalui hingga di detik ini. Mungkin masih terlalu angkuh untuk kembali bercermin kepada diri sendiri, bertanya dan mengakui, "Apakah salah yang saya kerjakan hingga menjadi seperti ini?"

Percayalah, jawaban akan hadir karena dicari. Hidayah kan mendekat karena ia dikejar. Kebaikan akan dihadirkan ketika seorang hamba dengan ikhlas memanggil Rabb nya. Masalah yang dihadapi hari ini, Insya Allah suatu hari akan menjadi jalan ilmu bagi saudara yang lain. Karena telah berhasil dilalui, dan telah ada hikmah yang dipetik atasnya. Beban yang dirasakan hari ini, Insya Allah setelah ditemukan jawabannya, akan menjadi inspirasi perubahan untuk yang lain di keesokan hari. 

KARENA MASALAH ITU JUGA ADALAH REZEKI.
Dan kata para ulama, rezeki adalah apa-apa yang menjadi sebab imanmu bertambah. Jika makan hari ini menjadi sebab kita berpikir tentang perciptaanNya, itulah rezeki hari ini. Jika jatuh hari ini menjadi sebab tangis penyesalan tumpah ruah dan menjadi penyebab ingin kembali ke jalanNya, itulah rezeki. Dan jika bahagia menjadi sebab keinginan berbagi dan membahagiakan lebih banyak orang hadir, maka itulah rezeki hari ini.

Janganlah mempersempit pemahaman tentang rezeki.
Sungguh, Allah mencintai kita lebih dari yang kita mau.
Sungguh, Allah mencintai kita tanpa diminta.
Sungguh, Allah itu senantiasa menghendaki kita menjadi lebih baik.

Maka, Berbahagialah!

Arya.
Jakarta, 16 Jumadil Akhir 1438H


Read More

Minggu, 12 Maret 2017

Wanita, Berbahagialah!


Berbahagialah engkau. Karena kedudukanmu yang agung. Yang bahkan, tak satupun dari kami lelaki memilikinya. Padamulah kelak, generasi-generasi peradaban akan berlarian riang, menghujani dengan pertanyaan-pertanyaan mereka tentang semesta. Atas izinNya kelak, namamu akan duduk di puncak-puncak harapan, bercengkrama bersama puisi-puisi yang paling tulus.

Berbahagialah. Karena Rasulullah menyebut namamu tiga kali, baru kemudian menyebut kami.
Berbahagialah. Karena doamu lah, harapan-harapan bergema riang di langitNya.
Berbahagialah. Karena hatimu lah, tempat berlabuh paling lapang dan paling indah.
Berbahagialah. Karena senyumanmu lah, rintik gerimis menyegarkan kembali daun-daun yang tak lagi hijau. Karena di bawah telapak kakimu lah kelak, ridho Rabb Pemilik Semesta membersamai kami.

Berbahagialah.


Arya.
14 Jumadil Akhir 1438H
Read More

Minggu, 26 Februari 2017

Lelaki Itu


Jadilah engkau lelaki yang meneduhkan. Lelaki yang menumbuh suburkan kebaikan-kebaikan yang ada di sekitarmu. Yang karena hadirmu, menguaplah semua lelah. Yang karena ilmu mu, terhapuslah segala gundah gulana.

Jadilah engkau lelaki yang senantiasa mempersaksikan cinta dihadapan Allah. Lelaki yang mengungkapkan cintanya hanya karena Allah. Yang mengajak keluarganya untuk terus melantunkan syukur.. Bukankah musuh-musuh Allah senantiasa berusaha melebarkan jarakmu dan keluargamu dengannya?

Jadilah engkau lelaki yang kokoh. Menjelma tameng ketegasan untuk kesalahan-kesalahan yang menjadi penyebab berpalingnya Allah dari keluargamu. Jadilah engkau laksana anak panah, menghunjam sanubari keluargamu dengan ayat-ayat Allah, lewat sejuk dan teduhnya lisanmu.

Agar cinta kepada Allah tetap terjaga.
Agar cinta kepada Allah tetap yang utama.

Jadilah lelaki itu.


Arya.
Jakarta, 29 Jumadil Awwal 1438H

Read More

Selasa, 21 Februari 2017

Puisi Yang Riuh

Di matamu yang teduh, puisiku menjadi hiruk pikuk. Reranting rindu mulai tumbuh merimbun. Namun rindu bukan untuk dibesar-besarkan. Ia indah dalam diam, dalam doa-doa yang terlantun atas namaNya. Ia erat tergenggam. Menuntun santun, tuk berjalan mendatangi.

#Jakarta pagi ini riuh oleh puisi-puisiNya yang jatuh dari langit. 

Read More

Senin, 20 Februari 2017

Kembali Bahagia


Hujan, mungkin bagimu ia adalah luka. Bersamanya, perih semakin menjadi. Karenanya, langitmu menjadi sedikit kelabu. Namun bukankah karenanya hangat mentari menjadi lebih terasa. Bukankah pada rinai-rinainya ada bukti bahwa Cinta kan selalu mendengarkan.

Lapangkan jiwamu untuk menyambutnya. Biarkan ia menghunjam. Membasuh semua perihmu. Menyamarkan tangismu. Karena ia akan segera beranjak, memberimu ruang tuk bercengkrama bersama pelangi. Ia hanya mampir sejenak tuk menyampaikan salam. Ia hanya mampir sejenak tuk menakar keyakinanmu pada bahagia.

Bukankah bahagia ada di sana, pada hati yang senantiasa terisi dengan lantunan syukur tak berkesudahan. Bukankah bahagia ada bersama kelapangan atas ketidakberdayaan. Dan bukankah bahagia adalah proses menggapai sejuknya keridhoanNya.

Kembalilah (pada) Bahagia.
Kembalikan semua kepadaNya.


Ry
Jakarta, 23 Jumadil Awwal 1438H
Read More